Tampilkan postingan dengan label serba-serbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label serba-serbi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 November 2012

performa kerja, kinerja, unjuk kerja ataukah tampilan kerja - part 1

Pekanbaru, 30 November 2012
Ahmad Fuady
Awalnya, saya bingung dengan ketidak-konsistenan pengertian job performance (literatur kadangkala mendefinisikannya sebagai performa kerja, tampilan kerja, unjuk kerja, kinerja, dll) yang menjadi dasar ketika harus menyusun standar penilaian kinerja. setelah melakukan beberapa riset literatur, saya menemukan beberapa tulisan yang sangat membantu saya unuk memahami performa kerja lebih dalam. Lalu, sadar bahwa saya bukanlah satu-satunya orang yang mungkin mengalami kebingungan akan hal ini, saya iseng-iseng mencoba menterjemahkan kajian tentang performa kerja di beberapa literatur yang saya anggap membantu tersebut dengan harapan bahwa ini juga bisa membantu rekan-rekan yang merasakan kebingungan yang sama sebagaimana yang saya rasakan ketika mecoba memahami performa kerja. Pada kesempatan kali ini saya memilih kajian Jex & Britt (2008) tentang performa kerja dalam buku mereka yang berjudul Organizational Psychology: A Scientist-Practitioner Approach, semoga bermanfaat.



Senin, 19 Maret 2012

sumber konflik interpersonal, part 1


Kamu seharusnya...
Ahmad Fuady
sumber: gitadine.blogspot.com 


Jika aku tidak menginginkan apa yang kamu inginkan, tolong jangan katakan bahwa keinginanku salah 
Jika aku mempercayai hal yang berbeda, setidaknya berhentilah sejenak sebelum mengkoreksi cara pandangku
Begitu juga jika perasaanku tidak sekuat perasaanmu, atau mungkin lebih kuat, cobalah untuk tidak memintaku untuk merasa lebih kuat atau lebih lemah
Atau mungkin jika tindakanku, atau kegagalanku untuk bertindak, sesuai rencanamu, biarkan saja.
Setidaknya pada saat ini aku tidak memintamu untuk memahamiku. itu bisa kamu lakukan hanya ketika kamu menyerah untuk mengubahku menjadi tiruan dirimu.

Selasa, 28 Februari 2012

Alasan kenapa orang membenci pekerjaannya (mungkin anda juga merasakannya)


Alasan kenapa orang membenci pekerjaannya?
Ahmad Fuady, Palembang 28 Februari 2012

sumber: http://www.surviving6to6.com
"I hate working! Why do we have to work? I don't want to go to work!! Somebody save me!!!! I just  want to be free! Free to wake up in the morning and do whatever I want with my day.... I don't want to have to go to work....It's so unfair! It's the truth, plain and simple. I hate having to go to work. I hate having a boss. I hate not being free to do with my time whatever I want. I hate not being free to take a vacation whenever I want. I hate having a work schedule. I hate having to leave the comfort of my home and going to work." (yang mau liat laman aslinya, ini alamatnya: http://www.squidoo.com/why-do-we-have-to-work-)

Awalnya saya iseng-iseng mencaritahu jawaban dari pertanyaan "Mengapa kita harus bekerja?" Tapi karena tulisan diatas, ketertarikan awal saya tadi jadi berbelok arah kepada pertanyaan “Apa alasan yang membuat orang membenci pekerjaannya?” Pertama-tama, kondisi-kondisi seperti apakah yang sangat dibenci oleh orang tersebut (tentunya dari perspektif pekerja, bukan dari perspektif pemberi kerja)? Apa yang bisa kita pelajari dari curahan orang-orang ini?

Minggu, 03 April 2011

Manusia adalah Aset yang Paling Penting


“If you want one year of prosperity, grow grain. If you want ten years of prosperity, grow trees. If you want one hundred years of prosperity, grow people” (Chinese proverb)

Kalau lomba kalimat ter-klise dilakukan, berikut ini adalah calon pemenangnya: “Yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri,” dan ini favorit saya, “Manusia kita adalah aset yang paling penting bagi perusahaan.” Pernyataan klise selalu diyakini benar, tapi penerapannya sering terabaikan.
Sebuah perusahaan tekstil yang telah go public pernah menuliskan kalimat “manusia kita adalah…” di dalam laporan tahunannya, meskipun hampir tidak pernah berinvestasi dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).

Senin, 21 Maret 2011

cold calls


Cold call begitulah istilahnya. Kata yang sering digunakan kalau kita mencoba menelpon seseorang untuk menjadi klien kita. Cold call berarti telepon dingin.  Kita menelpon untuk membuat janji pertemuan pertama kalinya dengan calon klien karena kita tidak tahu bagaimana respon orang tersebut, plus kita hanya memiliki informasi yang minim tentang calon klien. Bisa jadi orang tersebut ketika kita baru bilang bahwa kita ingin menawarkan sesuatu orang tersebut langsung menutup telepon ataupun bisa juga sangat welcome dengan kita sehingga menyediakan waktu bertemu. Alhamdulilah kalau cold call terakhir ini yang selalu terjadi. Tetapi bagaimana kalau yang responnya negatif itu yang kita dapat. Walaupun berpengalaman seseorang dalam melakukan cold call ini tetap saja awalnya ia tidak tahu respon yang akan didapat. Biasanya kalau dapat telpon respon yang negative begitu respon kita bermacam-macam. Ada balik ngedumel yang dalam hati. Nekat bener kalau kita langsung ngomong ke orangnya nih. Bisa sih terjadi kalau kita anggap orang tuh orang bener-bener kelewatan tapi kan yang rugi kita sendiri. Nama kita menjadi jelek. Gimana kalau orang tersebut menyebarkan nama kita pada orang lain. Nah lo, jangan sampai dech.  Nah ada juga yang bersikap cuek. Ah biarin saja. Memangnya Cuma dia saja calon klien kita. Toh, masih banyak kok calon klien di dunia ini. Makanya ini disebut cold call. Walaupun pengalaman kita sudah banyak dalam melakukan telepon ini tetap saja akan selalu ada perasaan cemas untuk melakukannya. (reni)